Beranda Opini Politik Kepentingan

Politik Kepentingan

479
0

Oleh Masud HMN

Melayu Pos Indonesia – Populer sekarang di dunia politik ungkapan pendapat Harold Lawest dan David Easton yang berpendapat politik itu di definisikan berdasarkan fungsinya. Politik adalah untuk what, who, when (apa, untuk siapa, dan kapan waktunya) ada zaman dahulu orang percaya kepada yang gaib (klenik). Hingga politik itu ditentukan kekuasan yang Maha Kuasa (wikipidia.org.)

Kini kepercayaan klenik mulai ditinggalkan, berubah dengan politik kepentingan nyata. Intinya politik masa kini ditentukan orang. Beraroma realita, materi, serta cenderung politik syarat dengan materi. Keduniaan yang dibawah pengaruh hawa nafsu.

Jabatan kekuasaan dan materi itulah yang pokok. Itulah yang dicari dunia politik realitanya terlihat dalam yaitu untuk mendapatkan pangkat,mendapatkan uang, dan materi yang lain.Masyrakat kini tidak percaya dengan yang “gaib” tetapi kepada yang nyata.

Demikian muncul sesudah politik tidak dipercaya dengan janji. Kini masih ada, dimasyarakat kita. Seperti contoh Muslim di daerah pedalaman Provinsi Aceh. Janji banyak bohongnya dari pada bukti, maka timbullah ungkapan yang negatif “politik bohong.”
Salah kah itu. Tidak dapat dikatakan keliru. Karena itulah kenyataan. Yang keliru bukan politiknya, melainkan cara melaksanakan politik dalam praktek.

Dahulu kala ada kepercayaan gaib dalam islam peninggalan nenek moyang. Orang Muslim menyebutnya klenik . Orang di zaman sekarang ini tidak percaya. Misalnya larangan duduk di pintu masuk nanti malaikat tak mau masuk Artinya rumah dijauhi malaikat. Jangan memotong kuku dimalam hari yang punya rumah tak diberi keturunan anak.

News Post : Mikul Dhuwur Mondem Jero dan Ambag Pramarta 

Alangkah dangkal pengertiannya. Hal itu perlu dibenarkan. Kepercayaan yang relevant, sesuai dengan zaman. Kepercayaan demikian itu disebut ”klenik” keyakinan bersifat “gaib”. Dasarnya ayat al Quran al Baqarah ayat l : “ Orang yang beriman percaya kepada yang ghaib, mendirikan shalat, membayarkan zakat. Ila Akhirul hayat… Kata “ghaib” maknanya adalah gaibnya sifat Allah . Jika terjemahnya lain maka muncullah “klenik” seperti yakni kepada contoh diatas. Bertentangan dengan makna “ghaib” yang terdapat pada ayat yang lain.

Kata ghaibi dalam kitab suci al quran adalah doktrin ajaran Islam yang harus diperjelas dengan pengertian modern.Pada kaitan politik sekarang, definisi harus diperjelas. Berkaitan dengan hukum modern. Dalam pemilu yang akan datang ini di Jakarta amat penting politik yang jujur.Satu contoh belum jelasnya partai mana yang mendukung Anies Baswedan. Bisa bisa politik bohong menjelma.

Politik kepentingan bisa terjadi. Yang dijanjikan Anies Baswedan kemudian ternyata tidak. Lain dijanji lain dalam kenyataan. Maka politik merujuk kepada dalil Agama. haruslah definisi yang modern sesuai dengan spiritual agama, ghaib berpatokan iman pada petunjuk al Quran. Membawa pencerahan dan kemajuan peradaban .

Jakarta 6 Agustus 2024
Penulis Doktor Masud HMN Spd. MM. dosen Univ. Muhammadiyah Prof Dr Hamka (UHAMKA) Jakarta,

Baca Juga :

Dua Burung Balam satu Pematang

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini