Beranda Olahraga & Selebriti Selamat Hari Pers Nasional tahun 2022 *SIWO*, Memang Hebat: Dari Galatama, STE,...

Selamat Hari Pers Nasional tahun 2022 *SIWO*, Memang Hebat: Dari Galatama, STE, Hingga Tour de ISSI

130
0

Melayu Pos Indonesia – ALHAMDULILLAH, di luar dugaan saya, catatan SIWO Kumpulan Orang Hebat (8/2/2022), memperoleh tanggapan positif dari para senior, sahabat seangkatan, dan teman-teman yang datang kemudian. Persis seperti metraliur, senjata otomatis 12,7 mm, puluhan nama tambahan diberondongkan.

Jujur, selama ini, hampir mayoritas nama itu telah hilang dari benak kiya, saya dan tentu para sahabat SIWO. Tapi, begitu saya buat daftar nama orang-orang hebat, mendadak memori itu datang kembali.

Bahkan tidak sedikit yang menjapri saya dengan akhir tulisan: “Jadi semangat nih,” begitu.

Ya, ada anekdot yang berbunyi: Mau panjang umur? Teruslah bersiturahmi. Intinya, dengan membayangkan sahabat-sahabat lama kita, maka seluruh jejak muncul kembali. Maaf, usul nih, jejak yang baik-baik aja ya. Jejak ehem-ehem, jangan dimunculkan kembali.

Meski begitu saya yakin, belum semua nama juga bisa diadop. Sekali lagi, seperti di paragraf setelah susunan nama di tulisan saya itu, saya sudah meminta maaf jika ada nama yang tak tertulis di sana. Tapi, apa pun juga, saat ini, sungguh saya mengucapkan terima kasih karena puluhan nama tambahannitu.

*Super hebat Galatama*
Kisah ini saya peroleh dari cerita Bang Valens dan Mas Sumo, serta Pak Anhar (Merdeka). Juga dari Pak Acub Zainal (Perkesa 78), Mas Sigit Harjojudanto (Arseto), Oom Benny Mulyono (Warna Agung) serta Mas Sumarmak (Indonesia Muda).

Lahirnya kompetisi Liga sepakbola utama atau Galatama 1978, ada buah karya SIWO.
Katanya, suatu hari di 1977, Bang Ali, Ketum PSSI yang juga mantan Gub DKI berbincang dengan beberapa wartawan peliput sepakbola, sebut saja: Bang Tabrin, Bang Ardi, Bang Zuhri, dan Mas Sumo.

Topik diskusi adalah bagaimana meningkatkan kompetisi Perserikatan. Kita tahu, Perserikatan sesungguhnya memiliki kompetisi lokal, tapi di tingkat nasional, mereka tak pernah bisa membuatnya.

Lho, bukannya…. Benar, Perserikatan itu punya ajang nasional yang mereka sebut kompetisi. Tapi, esensinya adalah turnamen, dan digelar dua tahun sekali.

Masih menurut cerita, duskusi bersambung dan berjalan hampir penuh di tahun 1977. Peserta ditambah menjadi lebih banyak. Oom Kadir Yusuf (kolumnis sepakbola Kompas), Mas Th. Budi Susilo dan Bang Valens (Kompas), Bang Lukman Setiawan (Tempo), Mas Budimantos (Pelita) serta beberapa lainnya, ikut dilibatkan. Setelah melakukan berbagai kajian, maka 1978, Ali Sadikin mendeklarasikan GALATAMA.

Sayang Galatama harus bubar dan dilebur menjadi Ligina di era Azwar Anas periode ke-2. Sisa-sisa Galatama digabung dengan Perserikatan. Terus berjalan hingga sekarang bernama Liga Indonesia.

Tanpa sederet senior SIWO dan Bang Ali, maka sepakbola kita belum tentu bisa seperti sekarang. Maka, jika kemudian PSSI merasa paling berjasa untuk itu, saya harus mengatakan *SIWO JAUH LEBIH BERJASA*.

Bukan hanya Galatama buah karya SIWO, kegiatan Sarung Tinju Emas yang mengadopsi _Golden Glove_ dari Amerika buah karya wartawan. Di situ nama-nama yang muncul sebagai penggagas, sebut saja: Mas Sumo (ketua SIWO), Bang Sam, Kang Othang, Mas Nito, dan banyak lagi. STE menjadi kalender puncak Pertina.

Dari cabor sepeda dengan Ketumnya Mas Harry Sapto, sekali lagi peran anggota SIWO ada di sana. Mas Sumo, Djunaedi (Suara Karya), Ajat Sudrajat (RRI), Yan Sonora (Radio Sonora), Ade Salam (Merdeka), Bambang Koentadi (Pikiran Rakyat) adalah orang-orang yang ikut menghidupkan _tour de Jawa_ 1982, _tour de ISSI_ Sulawesi Selatan 1984.

Secara khusus Ketum PB ISSI, mengakui peran SIWO pada olahraga sepeda sangat besar. Tak heran jika ada anggota SIWO yang duduk di posisi penting.

Demikian pula dengan beberapa cabor lainnya. Peran SIWO sangat kuat dan mendalam. Bahkan tidak sedikit anggota SIWO duduk sebagai pengurus inti cabor. Ya, bukan hanya di posisi humas, tapi posisi strategis. Artinya kualitas anggota SIWO, khususnya pada masa itu, diakui.

Jadi, jika saat ini, di Hari Pers Nasional 2022, Presiden Jokowi mengatakan Pers adalah Lokomotif dan Menpora Zainudin Amali mengajak PWI/SIWO bergandengan tangan, sungguh itu merupakan langkah tepat. Benar saat ini medsos berkembang sedemikian rupa, seolah menguasai setiap relung kehidupan, tapi tetap saja pers umum dan pers khusus (SIWO) yang patut dipercaya.

Medsos memang sangat cepat, tapi tidak sedikit yang jauh dari akurat. Betul medsos bisa menembus ke tengah-tengah, tapi sering tak mengandung kebenaran. Maka berulang berita, gambar, dan video hoax mumcul meresahkan.

Sementara itu, SIWO, dalam setiap langkahnya, pasti dibekali kode etik. Didasari dengan undang-undang pokok pers. Jauh dari penghakiman pribadi, apalagi menyentuh pada penghinaan fisik seseorang atau sekelompok orang. Intinya semua yang dikerjakan anggota SIWO dapat dipertanggungjawabkan.

*Jejak Markas punah*
Teriakan, perdebatan yang tak jarang berakhir dengan amarah, adalah bagian yang tak terpisahkan. Tapi, semua berakhir di markas saja. Selain itu, ada juga saling canda. Ada juga main catur, yoker karo, kiyu-kiyu. Semua hanya pengisi waktu sebelum sama-sama bertarung untuk mengejar berita.Duh, rasanya semua itu, benar-benar seperti baru saja terjadi.

Markas SIWO di lapangan tembak, di tengah-tengah antara kantor Perbakin pimpinan Mayjen TNI (purn) Marinir, Anwar dan restoran Bu Jacob, di mana ada tiga meja billiard ada di sana. Di sudut kanan, Bakso Lapangan Tembak yang selalu dipenuhi pengunjung, juga masih jelas gambarannya. Sayang, tapak sejarah itu sudah punah. Punah karena keserakahan.

Di bekas tapak itu, sejak 1997, berdiri sebuah hotel yang sama sekali jauh dari gambar kesederhanaan SIWO. Jauh dari kepentingan olahraga, meski saat berdiri mengambil momen olahraga, SEAG ke- , Jakarta. Hotel itu juga mengambil sebagian _venue_ Lapangan tembak.

Sedih, tapi SIWO tetap SIWO. SIWO tetap memiliki rekam jejak anggotanya yang hebat. Bahkan, meski ada upaya dari segelintir orang-orang di beberapa cabor saat ini ingin menghapus jejak dan peran SIWO, insyaa Allah usaha itu akan gagal. Sejarah sudah mencatatnya.

Sekali lagi, saya yakin, kumpulan nama di bawah ini pasti belum lengkap. Pasti masih ada nama-nama yang tertinggal. Dari lubuk hati yang terdalam, saya mohon dimaafkan.

*Inilah kumpulan orang-orang hebat itu:*
Dari harian *Kompas*: TH. Boedi Soesilo, Valens Doi, Ignatius Sunito, Sumohadi Marsis, TD Asmadi, Totok Purwanto di era 1970-80an. Lalu, Budi Shambazy, Yesayas Octovianus, Jimmy S. Haryanto, Irving Noor, Suryopratomo, Hendry CH. Bangun, era 1990- 2000an.

Dari *BOLA*: Sumohadi, Ignatius Sunito, Hikmat Kusumaningrat, Zaenal Efendy, Sam Lantang, Hartono, Ian Situmorang, Linda Wahyudi, Aba Marjani, Indrie HP Koencoro, Tyas Soemarto, Hardimen Koto, M. Nigara.

*Sinar Harapan* dan atau *Suara Pembaruan*: Stefie Rompis, Derrek Manangka, Isaac Sinyal, Supardi, John Halmahera, Eddy Lahengko, Pramadi, Steven Musa, Agus Baharudin. *Tribun Olahraga*: Alwan Z, Ronny Pangemanan, Suharto Olii, Suriyansah.

*Harian Merdeka*: Sonny, Zuhri Husen, Budiman Ros, Ponco Siswarto, Mardi, Ade Salam, Wustho, Asro Kamal Rokan. *Harian AB*: Adhi Suparpto, Hadi Suyono.

*Berita Buana*: Kasim Aruan, Seno Atmojo, Bambang Soekendro, Hardo. *Berita Yudha*: Alimoeddin, Yasidi Iskandar, Manto. *Indonesian Times*: Nico Watimena, Bahdar Zein. *Harian Neraca*: Adi Wargono, Bambang Sukaryono.

*Harian Pelita*: Budimantos, Istiqom, Syahrisyad Dawam, Kapten Salamun Nurdin, TB. Adhi, Reva Dedi Utama. *Sinar Pagi*: Mangara Siahaan, Prayan Purba, Parlin, Riang Panjaitan, Raden Barus, Koma Nasution.

Barisan orang-orang hebat dari *Pos Kota*: Ardi Syarif, H. Sukarma, Idrus, Sakti Sawung Umbaran, Isyanto, Sugeng Indiarto, Buchori. *Harian terbit*: Ardi Syarif, Deddy Iskandar, Raja Pane, Lilik Permana, Akhir Rasyid, Kesit BH. *Suara Karya*: Atal S. Depari, Djunaedi Tjunti Agus, Alfons Suhadi, Sumarsono, Heru Suprantio, Munas Tundang.

Baca Juga : Hari Pers Nasional-2022 SIWO kumpulan orang – orang hebat

*Media Indonesia*: Ahmat Satiri (sebelum MI berpindah ke Surya Paloh), Nano Bramono, Widhy Purnama, Mimi Alqamar, Gito. *Harian Jayakarta*: Yan Abut, Yon Muis.

Barisan dari kantor berita *antara*:
Abdullah Sukaryo, Mazini Ibrahim, Otang Farhyana, M. Geziel, Tobari, Brata TH, AR. Lubis, Opung Alias Nurdin Tambunan, Edy Supriyatna, Rajab Ritonga. *RRI*: Ripto Syahfidi, Mursyid, Ajat Sudrajat, Djioto, Sarwono, Eddy Sihombing, Syamsul Muin Harahap, Yongky. *TVRI*: Oom Sambas, Azwar Hamid, Max Sopacua, Sazli Rais, France Jasman.

Dari divisi majalah, nama-nama besar: Sondang Meliala, Tabrin Thahar, Norman Chaniago, Syahrishad Dawam, Bambang Soenjoyo (*Olympic* ), Budiono (*Prestasi*), Luckman Setiawan, Herry Komar, Rudy Novrianto, Toriq Hadad, Utun (*Tempo*). Tommy Arief (*Popular*), Sondang Meliala, Mitra Alamsyah (*Sportif*), Edi Elisson, Res Yasin (*Selecta Sport*).

Serta sederet koresponden: Herman (*Waspada*), Rahmat, Binsar Sinaga (*Analisa*), Sulaiman Ros (*Jawa Pos*), Sugeng (*Surabaya Pos*), Erwiantoro (*Suara Merdeka*), Barce Nazar, Lutfi Sukri (*Wawasan*), Mang Karya (Sukarya), Nanang Setiawan (*Pikiran Rakyat*).

Tentu masih sangat banyak orang-orang hebat dari daerah, sebut saja antara lain: Zatako (*Haluan dan Majalah Olympic*, Padang dan Medan), Syamin Pardede ( *Kompas,* Medan), Usman Pakaubun ( *Suara Pembaruan,* Papua), Koresponden BOLA: Abdi Satria (Makassar), Broto Happy (Solo), Rosyudie (Surabaya), Sigit Nugroho (Bandung), Abdul Muis (Jawa Pos, Surabaya).

*MN*
PWI 09.00.2205.83

Baca Juga :

Musrenbang Kec. Sabak Barat Usulkan 264 Skala Prioritas

Baca Juga :

Syarat Sukses

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here