Beranda Opini Isu Radikal dan Islam Nusantara

Isu Radikal dan Islam Nusantara

45
0

MELAYU POS INDONESIA – Menimbang Isu radikal dan konsep Islam Nusantara yang mengemukakan dalam kaitan Indonesia yang berkemajuan semakin membuat diskursus tidak produktif saja Isu radikal dengan abtraksinya Islam keras dan Islam Nusantara dengan domnasi budaya local sama tidak transformative pada ruang Indonesia maju. Ya sekali lagi tidak transformatif tidak ada gunanya.

Bahkan menimbulkan kekeliruan dan kesalahaiah pahaman belaka. serta mengacaukan Pada gilirannya merusak tujuan Islam sendiri. Sangat disayangkan.Padahal umat Islam itu memerlukan pemahaman yang utuh dan kontinu dengan linked ke konsep fundematalnya. Harapannya agar mampu nemgatasi persoalan dan tantangan dengan tawaran solusi yang tepat.Dalam kata lain satu pemahaman Islam yang hikmah dan rahmatan lil alamiin.

Pertanyannya adakah radikal dan Islam Nusantara mengandung nilai hikmah dan rahamtan lil alamin?
Jawabanya kita awali asal Radikal adalah.dari asal kata radic, berarti akar, hakiki, mendasar. Atau dipadankan dengan fundamental Jadi Radikal sesuatu yang mendasar. Lalu Islam Nusantara Islam dengan pemahaman kultural local, Setemapat setempat. Islam Jawa Kalimantan Ambon dsbnya.

Maka Jawabnya apakah ada hikmahnya mungkin tidak, kata hikmah dalam, Islam adalah berssifat universal. Pada radikal dengan kekerasan di identikkan dengan teroris dan Islam Nusantara identic kandungan dominasi nilai local. Jadi tidak memenuhi paham Islam yanmg seungguhnya.

Termasuk dengan rahmatan lil alamn yang orisinilnya bagian konsep utuh tauhid yang digeser pengertiannya oleh Islam Nusantara. Jadinya Islam Nusantara bukan konsep hikmah dan diluar rahamatan lil alamiin itu Meminjam istilah yang dikemukakan Thamsary bahwa terjadi kekaauan sejarah dalam, The desruct of destiny ( merusak tujuan) Ia mengatakan Terjadinya kekelirtuan, dan kesimpangan siuran pemahaman tentang Islam

Memang Thamsary mengkaitakan perjalanan sejarah bangsa Arab pada era awal penjajahan bangsa Barat abad 19 yang membawa wacana Islam yang tidak murni dan bercampur dengan nilai lain. Bukan Islam di Indonesia. Tapi bagaimanapun prinsip kebenaran Islam itu universal dimana dan kapanpun, Sebab pada dasarnya Islam yang utuh dan rahmatan lil alamiin itu adalah sama Islam yang Hikmah, dengan memiliki indikator sebagai berikut
Pertama yang mengandung nilai yang baik (mauizatul hasanah).
Kedua, nilai dialoog yang bermutu (billati hiya ahsan)
Ketiga, memegang prinsip yang benar (wajadilhum billati hiya ahsan)
Ketiga unsur adalah jalan keluar atau solusi yang Bahasa sekarang ini adalah transformative, kecerdasan tinggi.

Diatas semua itu, saya berpendapat inilah posisi tokoh, atau ninik mamak seharusnya dalam masyarakat. Kecerdikan tinggi yang menyelesaikan kekeliruan yang merusak tujuan.
Kemudian saya mendukung pendapat Thamsary dalam bukunya The Destruct of destiny (menghancurkan tujuan). Yaitu ada gejala yang keliru. Hal itu merusak. Nauuzuu billah minzalik

Jakarta 2 Agustus 2020
*) Masud HMN adalah Doktor Pengajar di Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (UHAMKA) Jakarta.

[REDAKSI // EDITOR : ERSAN]

Baca Juga :

Infantino Hattrick FIFA?

Baca Juga :

Kab. Tanjab Timur Melalui PUPR Anggarkan 3 M Untuk Tanggap Darurat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here