Beranda Indonesia News OPINI PANCASILA, Anies Baswedan dan Ironi #IdeologiHibrid: Menimbang Liberalisme di Jantung Republik

OPINI PANCASILA, Anies Baswedan dan Ironi #IdeologiHibrid: Menimbang Liberalisme di Jantung Republik

52
0
Oleh: Martin Sembiring
Jakarta, Melayu Pos Indonesia – Di bawah langit Jakarta yang semakin teknokratis, sebuah transformasi ideologis sedang berlangsung secara senyap. Anies Baswedan, dengan segala kecemerlangan retorikanya, kini menjadi pusat dari sebuah eksperimen politik yang saya sebut sebagai #IdeologiHibrid. Jakarta bukan lagi sekadar ibu kota yang berdenyut; ia telah menjadi laboratorium di mana Pancasila sedang diuji oleh narasi yang tampak maju namun menyimpan paradoks elitisme yang kental.
Lantangnya Hibriditas: Teknokrasi yang Liberal
Ketajaman hibriditas ini semakin benderang jika kita menelisik visi-misi Anies Baswedan dalam isu hukum dan pembangunan. Dengan lantang, Anies memosisikan dirinya sebagai pembela “Negara Hukum” (Rechtstaat), menentang apa yang ia sebut sebagai “Negara Kekuasaan” (Machtstaat). Namun, di sinilah letak hibriditasnya: ia menggunakan bahasa universal liberalisme—seperti kebebasan individu dan integritas institusi—untuk menarik simpati kelompok sipil progresif, sembari mengawinkannya dengan kebijakan teknokratis yang sangat berorientasi pada efisiensi pasar.
Kebijakan megah seperti Jakarta International Stadium (JIS) atau transformasi transportasi JakLingko mencerminkan logika liberal yang mengutamakan sistem. Meskipun berhasil dalam integrasi fisik, kebijakan ini sering dikritik karena sifatnya yang top-down. Bagi pengamat sejarah, ini adalah “Liberalisme yang mengenakan peci”—sebuah upaya mentransformasi masyarakat menjadi unit-unit ekonomi yang kompetitif di bawah jubah keadilan sosial.
News Post : Peta yang Dibeli dan Kedaulatan yang Tergadai: Refleksi dari Bumi Lancang Kuning
Membelah dengan Pisau Marhaenisme dan Tradisionalisme
Jika kita membelah narasi ini dengan pisau Marhaenisme, kontradiksinya menjadi telanjang. Bagi pengikut Bung Karno, kedaulatan harus berada di tangan “si Marhaen” atas alat produksinya. Namun, dalam ekosistem digital dan industri yang dibawa Anies, rakyat kecil seringkali hanya menjadi “pengguna” atau buruh dalam rantai pasok global, sementara kendali algoritma tetap di tangan elit teknokrat.
Kehadiran Muhaimin Iskandar dalam panggung politik Anies berfungsi sebagai “rem” tradisionalisme. Muhaimin, dengan akar pesantrennya, mencoba memagari liberalisme Anies agar tidak tercerabut dari akar budaya. Ada ketegangan nyata antara “paspor global” Anies yang fasih dengan logika internasional, dan “peci hitam” Muhaimin yang menuntut keadilan bagi masyarakat desa yang tidak tersentuh oleh gemerlap digitalisasi Jakarta.
Ujian Etika Romo Magnis-Suseno
Ujian terberat bagi #IdeologiHibrid ini datang dari sudut etika kemanusiaan. Romo Franz Magnis-Suseno selalu menekankan bahwa legitimasi politik terletak pada keberpihakan kepada yang paling lemah (the preferential option for the poor). Bagi Romo Magnis, negara bukan perusahaan yang hanya mengejar target KPI (Key Performance Indicators). Jika hibriditas Anies hanya menciptakan “kebebasan formal” melalui akses hukum dan digital, tanpa memberikan martabat nyata bagi warga yang terpinggirkan—seperti dalam kasus warga Kampung Bayam di sekitar JIS—maka narasi ini telah kehilangan jiwa etisnya. Politik harus memiliki hati, bukan sekadar data atau retorika HAM yang terdengar manis di mimbar debat.
News Post : Kapolsek Mendahara Ulu IPTU Fikrur Riza SH,MH. Patroli Ke Lokasi Konflik Lahan PT. MPG dengan Japak CS 
Penutup : Persimpangan Jalan Republik
Anies Baswedan saat ini berdiri di persimpangan jalan. Ia sedang berusaha mensintesiskan efisiensi liberal dengan retorika kerakyatan. Namun, hibriditas ini tidak boleh menjadi topeng bagi “individualisme meritokratis” yang dingin. Indonesia membutuhkan pemimpin yang mampu memastikan bahwa di tengah deru modernitas, si Marhaen tidak terpinggirkan, kaum tradisionalis tidak terasingkan, dan nilai kemanusiaan tidak dikalahkan oleh logika industri. Pada akhirnya, sejarah akan mencatat: apakah #IdeologiHibrid ini adalah jembatan menuju kesejahteraan yang berakar pada bumi pertiwi, atau justru jalan lingkar yang menjauhkan kita dari cita-cita luhur para pendiri republik.
Sumber Narasi & Referensi :
1. Visi-Misi Anies-Muhaimin (2024): Fokus pada penguatan hukum, HAM, dan ekonomi digital (Sumber: (tautan tidak tersedia), Tempo).
2. Pidato Debat Pilpres 2024: Narasi mengenai ketimpangan dan “Bansos Plus” (Sumber: Liputan6, YouTube).
3. Analisis Wacana Kritis: Representasi ideologi populisme intelektual dalam komunikasi politik Anies Baswedan (Sumber: ETD UGM, Repository UNJ).
4. Perspektif Filsafat Politik: Konsep Bonum Commune dan Etika Politik (Romo Franz Magnis-Suseno, Etika Politik, Gramedia).Teori Marhaenisme: Ajaran Bung Karno mengenai Sosio-Nasionalisme dan Sosio-Demokrasi (Soekarno, Dibawah Bendera Revolusi).( Red – MPI )

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini