Beranda Opini Kecerdasan Intelektual dan Budi Mulia

Kecerdasan Intelektual dan Budi Mulia

46
0

Oleh Masud HMN

Melayu Pos Indonesia – Waras pada akal identik dengan kecerdasan intelektual sementara Budi Mulia adalah Akhlakul karimah. Faktor keduanya diperlukan manusia berkeadaban dan kemajuan. Tujuannya adalah bangunlah badanya dan bangunlah jiwanya untuk Indonesia raya.

Dalam konsep nawa cita gagasan Jokowi ini dinyatakan. Yaitu tak hanya membangun bangsa dengan bangunan fisik yaitu badannya, rumahnya. lingkungannya. Tetapi juga kejujuran serta etika dan adabnya. Bangunan fisik dan jiwa adalah mesti sejalan. Tidak boleh terjadi fisiknya terbangun baik, tetapi jiwanya tidak. Bukan demikian seharusnya.

Hal ini meminjam pendapat dari almarhum Syafii Maarif tentang fisik dan mental itu adalah ibarat kongsi dua unsur yang tidak boleh berpecah yaitu kongsi akal dan kalbu. Rusak lah kalau sampai terjadi pecah kongsi antara akal dan kalbu. Rusak akal yaitu kecerdasan ada tetapi tidak mambawa manfaat.

Begitu juga kalau rusak kalbu atau hati akan celaka orang menjadi tidak jujur dsbnya.Yang seharusnya akal dan kalbu sama sama baik nya, berpadu keduanya. Itulah yang kita upayakan.

News Post : Publik Relation dan Human Relation

Begitulah pendapat Prof Doktor Syafii Maarif yang secara sederhana. Menjelaskan pembangunan fisik dan mental itu, Dengan penjelasan demikian semua kita mengerti bagai mana manusi Indonesia itu. Dalam ajaran agama Islam akal itu menekan agama itu bagi orang yang berakal. Apakah kamu berakal. Apaala tak qiluun yang artinya apakah kamu tak berakal.

Dalam ayat yang lain yaitu menyebutkan yang berilmu (berakal) ditinggikan beberapa derajat. Dan meyebutkan tidak sama orang yang berilmu dengan yang tidak berilmu. Dalam konteks Indonesia raya maknanya adalah manusianya berkualitas. Manusia berkualitas dan beradab yaitu yang jujur dan baik. Tujuan dari pembangunan kita menjadi missal Negara yang maju.

Baca Juga :

Pemimpin Yang Sabar

Kecerdasan Intelektual dan Budi Mulia.
Oleh Masud HMN*)
Waras pada akal identik dengan kecerdasan intelektul sementara Budi Mulia adalah ahlakul karimah. Faktor keduanya diperlukan manusia berkeadaban dan kemajuan. Tujuannya adalah bangunlah badanya dan bangunlah jiwanya untuk Indonesia raya.
Dalam konsep nawa cita gagasan Presiden Jokowi ini dinyatakan. Yaitu tak hanya membangun bangsa dengan bangunan fisik yaitu badannya, rumahnya. lingkunganya. Tetapi juga kejujuran serta etika dan , demikian recana yang tertuang dalam nawa cita pembangunan pemerintah Jokowi.
Bangunan fisik dan jiwa adalah mesti sejalan. Tidak boleh terjadi fisiknya terbangun baik,tetapi jiwanyanya tidak. Bukan demikian seharusnya.
Hal ini meminjam pendapat dari almarhum Syafii Maarif tentang fisik dan mental itu adalah ibarat kongsi dua unsur yang tidak boleh berpecah, yaitu kongsi akal dan kalbu.Rusak lah kalau sampai terjadi pecah kongsi antara akal dan kalbu. Rusak akal yaitu kecerdasan ada tetapi tidak mambawa mamfaat.
Begitu juga kalau rusak kalbu atau hati akan celaka orang menjadi tidak jujur dsbnya.Yang seharusnya akal dan kalbu sama sama baik nya, berpadu keduanya .Itulah yang kita upayakan.
Begitulah pendapat Prof Doktor Syafii Maarif yang secara sederhana. Menjelaskan pemabangunan fisik dan mental itu,Dengan penjelasan demikian semua kita mengerti bagai mana manusi Indonesia itu.
Dalam ajaran agama Islam akal itu menekan agama itu bagi orang yang berakal. Apakah kamu berakal. Apaala tak qiluun yang artinya apakah kamu tak berakal
Dalam ayat yang lain yaitu menyebutkan yang berilmu (berakal) ditinggikan beberapa derajat. Dan meyebutkan tidak sama orang yang berilmu dengan yang tidak berilmu
Dalam konteks Indonesia raya maknanya adalah manusianya berqulitas .Manusia berkualitas dan beradab yaitu yang jujur dan baik.Tujuan dari pembangunan kita.
Menjadi misal Negara yang maju adalah dikatakaa kalau tingkat ilmu pengetahuan tinggi dan pendapatan petumbuhan rata rata enam ratus dolar Amerika tinggi income perkapita.Kesimpulan nya Negara yang maju itu adalah maju dalam ekonomi dan ilmu pengetahuan. Beda kalau Negara kaya saja bukan Negara maju . Maka harus dua dua nya kaya dan berilmu
Akhirnya inilah pembangunang harus kita capai.Pembangunan fisik dan pembangunan mental.Seimbang antara fisik dan mental.
–=Masud adalah Doktor Dosen Universitas Muhamadiyah Prof Dr Hamka (UHAMKA) Jakarta

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini