Beranda Opini Mungkinkah Pemakzulan Presiden?

Mungkinkah Pemakzulan Presiden?

45
0

Oleh Masud HMN

Melayu Pos Indonesia – Mungkinkah pemakzulan Presiden ? Mustahil nampaknya. Lantaran waktu tidak cukup -. Adanya pernyataan 100 tokoh intelektual kampus sudah kita ketahui. Terdiri dari pimpinan universitas sepert Rektor Gajah Mada (UGM) Institut Teknologi Bandung (ITB) Universitas Brawijaya (UBRAW). Universitas Indonesia (UI) dan lain lain. Isinya tentang pemakzulan Presiden Jokowi sebelum pemilihan umum (pemilu) tanggal 14 Februari 2024.

Makzul berarti pemberhentian, penurunan dan penggantian. Atau pengambil alihan yang identik dengan kasus yang terjadi pada Presiden Gus Dur. Dicopot dari jabatan Presiden.

Pertanyaannya adalah mungkinkah secara kontitusi dilakukan ?

Jawabnya berpegang kepada waktu yang ada jawabnya tidak mungkin. Karena waktu tinggal 5 hari lagi. Lain halnya kalau diluar kontitusi. Misalnya dengan demontrasi besar – besaran. Atau kalau ada chaos atau kekacau halauan
Pemakzulan menurut Rektor Universitas Gajah Mada (UGM) Jogyakarta hanya tentang alasan pemakzulan. Bukan tentang bagai mana melaksanakannya. Waktu sisa menjelang Pemilu jelas tidak cukup. (Abraham Samad speak up TV Feb 8 2024).

Suasana memang panas sekali. Menghendaki Jokowi dimakzulkan dari Presiden, Agar dengan demikian Jokowi tidak lagi menjadi Presiden lalu tidak berkuasa. Seperti jawaban pejabat istana Dwipayana. mengatakan ada prosedur konstitusi yaitu Dewan perwakilan Rakyat (DPR RI), Mahkamah konstitusi (MK). Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR RI) yang bersidang. Barulah pemakzulan Presiden seperti pemakzulan Presiden Abdur Rahman Wahid (Gusdur).

Seperti demikian proses konstitusi yang kita sepakati. Kecuali yang tadi diluar procedure konstitusi yang dilakukan. keadaanya kacau balau dan tidak terkendali, Demikian penjelasan G Dwipayana staf istana disampaikan untuk menjawab tentang keinginan pemakzulan Presiden Jokowi (Ray Rangkuti, Feb 8 2024).

News Post : Mengenang Yaser Arafat Pejuang Palestina

Kita mengenal dua kata berhubungan dengan pemakzulan kata “noise” yang berarti ramai suara. Kata kedua, yaitu “voice” yang berarti suara tuntutan sesuatu. Noise dan voice sama ributnya. Hanya ya ng satu (noise) hanya rebut saja, kedua rebut yang ada maknanya. Kita memahamkan “noise” hanya untuk ribut saja. Sementara “voice” ribut adalah suara yang ada tuntutan atau maknanya.., Maka yang kita tanggapi adalah “voice” ini saja.

Alasannya kalau ribut saja tak bisa dilaksanankan. Artinya tak perlu. Kita hanya mencari yang ada esensi dan bisa dilaksanakan. Pandangan kita adalah pemakzulan Presiden Jokowi adalah suara noise belaka tak bisa dilaksankan karena waktu.. Kecuali mau kacau dan negeri ini “chaos” kacau balau yung diluar undang undang.. Kita tidak menghendaki kacau balau; melainkan aman damai dan bermartabat.

Masud HMN adalah Doktor Dosen Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (UHAMKA) Jakarta

Baca Juga :

Politik dan Perang Mencapai Kemenangan

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini